Jumat, 02 November 2012

Perkebunan Sawit Cikidang



Sekedar Berwisata atau Miliki Sendiri Kebun Sawitnya



Wisata agro atau berwisata di areal perkebunan, saat ini seolah begitu popular di masyarakat. Ya..karena memang saat ini telah banyak berkembang lokasi wisata agro di Indonesia. Bahkan wisata agro ini telah menjadi tempat wisata alternatif, disamping wisata alam dan berbagai wisata lainnya.

Salah satu wisata agro yang saat ini tengah ‘naik daun’ dan menjadi pilihan favorit banyak wisatawan adalah Cikidang Plantation Estate. Lokasi wisata yang terdapat di Desa Pangkalan, Kecamatan Cikidang, Sukabumi ini, merupakan sebuah kawasan perkebunan terintegrasi yang memadukan wisata dengan kegiatan usaha perkebunan kelapa sawit dan properti.
Selain memiliki pemandangan alam yang indah, dengan hamparan perkebunan kelapa sawit di tengah hawa pegunungan yang sejuk dan bersih, di lokasi ini pengunjung juga disajikan berbagai pilihan paket wisata. Mulai dari wisata berburu, off road, berkuda, out bond, hingga mengunjungi pabrik pengolahan kelapa sawit.
Bagi yang gemar berburu dan ingin menguji keterampilanya dalam menaklukan hewan-hewan buruan, pihak pengelola menyediakan paket hunting range yang berada di tengah perkebunan teh, karet dan kelapa sawit. 
Di lokasi berburu ini, pengunjung dapat merasakan sensasi berburu layaknya di hutan belantara, tanpa perlu khawatir diterkam binatang buas. Tapi di sini, para pemburu tak perlu repot mencari hewan buruannya, karena pihak pengelola juga telah menyediakan hewan buruan, yang juga biasa diburu di alam liar. Mulai dari kelinci, ayam, kalkun, rusa atau kijang, kambing hutan, hingga babi hutan. 
Di sini, pengunjung juga tidak perlu repot membawa senjata buruan. Karena semuanya telah disiapkan oleh pihak pengelola. Tinggal menyewa, maka pengunjung bisa memilih senjata yang akan digunakan, seperti senapan atau panah. Termasuk juga kendaraan yang akan digunakan untuk berburu, muali dari ATV hingga mobil berburu.
Bagi pengunjung yang gemar off road, pihak pengelola juga menyediakan berbagai pilihan kendaraan yang dapat digunakan, seperti mobil jip 4x4, ATV hingga motor trail. 
Yang juga menarik, di areal wisata agro Cikidang ini, pengunjung juga dapat mengunjungi pabrik pengolahan kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton per jam yang digunakan sebagai tempat penampungan hasil perkebunan sawit terpadu di lokasi itu.   

Memiliki Kebun Sawit Sendiri
Memiliki perkebunan sawit sendiri, tentu banyak orang yang menginginkannya. Karena, minyak sawit saat ini tengah menjadi komoditi primadana, yang mampu memberikan banyak kentungan bagi pemiliknya.
Bukan hanya saat ini, komoditi yang dapat diolah menjadi minyak nabati ini juga sangat menjanjikan di masa mendatang. Terutama dengan semakin sedikit dan terbatasnya minyak yang bersumber dari fosil, menjadikan minyak nabati sebagai pilihan alternatif untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di dunia. Disamping itu, minyak sawit juga dapat diolah menjadi beberapa produk kimia yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Dan harapan untuk memiliki perkebunan sawit sendiri itu, bukan merupakan hal yang mustahil di Cikidang Plantation Estate ini. Karena di sini, siapapun yang berminat bisa memilikinya. Bukan hanya perkebunan kelapa sawit, tapi sekaligus villa atau resort dan berbagai fasilitas lainnya.
Di Cikidang Plantation Estate ini, pihak pengelola juga menyediakan berbagai pilihan paket yang harganya dapat disesuaikan dengan isi kantong Anda. Mulai dari yang harganya cuma Rp 300 juta hingga mencapai Rp 2,85 miliar.
Untuk paket seharga Rp 300 juta, pihak pengelola menyebutnya Bintangraya Plantation Estate. Dengan investasi yang dapat diangsur selama dua tahun, kita sudah dapat memiliki satu hektar kebun, yang telah ditanami 125 pohon kelapa sawit dan 200 pohon jati di wilayah Sukabumi Selatan. Selain mendapatkan sertifikat hak milik atas kebun tersebut dengan jaminan pemeliharaan selama 25 tahun, kita juga akan mendapatkan gratis keanggotaan di Cikidang Golf & Country Club selama 10 tahun.
Paket kedua yang ditawarkan adalah Cikidang Plantation Estate, yang harganya Rp 350 juta yang juga dapat diangsur selama dua tahun. Untuk paket ini kita akan mendapatkan pilihan kavling kebun, yaitu antara yang luasnya 2.500 meter persegi atau 1.250 meter persegi dengan pemandangan lapangan golf, yang sudah ditanami pohon kelapa sawit dan jati.
Selain itu, kita juga akan mendapatkan satu unit villa yang luasnya 36 meter persegi, yang di dalamnya terdapat dua kamar tidur.
Paket ketiga yang ditawarkan adalah Teakwood dan Palm Plantation Resort dengan harga Rp 1 miliar. Untuk paket ini, kita akan mendapatkan satu kavling kebun di Cikidang, dengan dua pilihan luas 2.500 meter persegi atau 1.250 meter persegi dengan golfview dan satu unit resort tipe 36. Ditambah lagi dengan kepemilihan 2 hektar kebun di Sukabumi Selatan, yang telah ditanami 400 batang pohon jati dan 250 batang kelapa sawit. Jaminan pemeliharaan kebun selama 25 tahun.
Selain mendapatkan sertifikat hak milik atas lahan tersebut, kita juga akan mendapatkan keanggotaan gratis di Cikidang Golf & Country Club selama 10 tahun. Pembayaran untuk paket ini juga dapat diangsur.
Selanjutnya paket Teakwood & Palm Plantation Resort dengan harga Rp  1 miliar. Untuk paket ini, kita akan mendapatkan satu unit rumah Walet dengan luas 288 meter persegi (lengkap), satu hekatar kebun di Sukabumi Selatan yang ditanami 200 pohon jati dan 125 batang pohon sawit.
Selain mendapatkan sertifikat hak milik dan jaminan perawatan selama 25 tahun, kita juga akan mendapatkan kenggotaan gratis di Cikidang Golf & Country Club selama 10 tahun.
Dan paket yang paling lengkap adalah Teakwood & Palm Plantation Resort (Corporate Farming), yang harganya Rp 2,85 miliar. Untuk paket ini, kita akan mendapatkan satu kavling kebun di Cikidang dengan luas 888 meter per segi. Selain itu, kita juga akan mendapatkan kavling kebun seluas 2,5 hektar di Sukabumi Selatan yang sudah ditanami 500 batang pohon jati dan 312 batang sawit.
Bukan hanya itu, kita juga akan mendapatkan villa seluas 108 meter persegi di Cikidang, satu unit rumah walet dengan luas 288 meter persegi, satu unit apartemen dan gratis keanggotaan di Cikidang Golf & Country Club selama 10 tahun.

Mudah Ditempuh
Bagi Anda yang ingin berwisata atau melihat langsung perkebunan kelapa sawit di areal wisata Cikidang Plantation Estate ini, tak perlu pusing mencarinya. Karena lokasi perkebunan ini hanya berjarak 2 ½ jam perjalanan dari pusat kota Jakarta.    
Rute yang dapat ditempuh adalah melalui dari Tol Dalam Kota, masuk ke Tol Jagorawi dan keluar di Pintu Tol Ciawi. Keluar dari pintu tol, ambil jurusan menuju Kota Sukabumi.
Dalam perjalanan dari Ciawi menuju Cikidang, kita akan melewati Lido, Cicurug, dan Parung Kuda. Dan sebelum memasuki batas wilayah Kecamatan Cibadak, kita berbelok ke kanan, menuju ke jalur Cikidang - Pelabuhan Ratu.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 km pada jalan raya Cikidang, maka kita akan menjumpai Kantor Pemasaran Cikidang Plantation Estate yang berada di sisi sebelah kanan. Letak kantor itu berdampingan dengan lokasi Wisata Berburu Cikidang (Cikidang Hunting Ranch & Resort).
Di sepanjang perjalanan menyusuri jalan raya Cikidang menuju Pelabuhan Ratu, kita akan disuguhi pemandangan yang indah di kedua sisi jalan, dengan hamparan areal perkebunan teh dan kelapa sawit yang berlatar belakang Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango.
Jadi buat Anda yang berminat, utuk sekedar berwisata agro dengan segala fasiltas yang ada bersama keluarga, atau tertarik untuk menjadi pemilik kebun sawit di areal itu, plus memiliki villa atau resort sendiri. Tunggu apalagi dan selamat mencoba. ***

Dugaan Korupsi PLTA Asahan-3 Harus DIusut Tuntas


JAKARTA-Febby Tumewa, pengamat kelistrikan dari Institute for Essential Services Reform (IESR) meminta pihak terkait untuk menyelidiki dugaan korupsi dalam pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan-3 di Desa Batu Mamak, Kabupaten Toba Samosir  yang berpotensi merugikan negara Rp 15,3 miliar.

“Kalau memang ada indikasi kuat terjadinya korupsi dalam proyeik pembangkit berkekuatan 160 MW dengan investasi Rp 4,8 triliun itu, seharusnya aparat berwenang harus bergerak cepat untuk mengusut. Karena yang namanya korupsi tidak boleh ditolelir,” kata Febby.

Menurut dia, kalau dugaan atau indikasi korupsi pembebasan lahan tersebut menggunakan uang negara, BPKP bertindak cepat untuk menyelidikinya. Bahkan jika korupsi itu skalanya nasional dan melibatkan pejabat PLN, kasusnya bisa diselidiki oleh KPK.

“Apalagi dugaan korupsi ini sudah diberitakan di beberapa media lokal dan nasional, harusnya ini cepat direspon. Ini kan sudah bisa jadi bukti awal untuk segera dilakukan penyelidikan,” ucap dia.

Seperti diketahui, Indonesian Corruption Watch (ICW ) Tobasa mengindikasikan, telah terjadi mafia tanah yang mengakibatkan kerugian negara mencapai Rp 15,3 miliar dalam proyek PLTA Asahan-3.

Kerugian negara tersebut, disinyalir berasal dari pembebasan tanah di kawasan hutan lindung seluas lebih kurang 18 hektare di Kecamatan Meranti Pohan Kabupaten Toba Samosir yang dilakukan manajemen PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Jaringan Sumatera I kepada 323 warga. Padahal kawasan hutan lindung merupakan tanah negara, yang tidak boleh diperjualbelikan.

Selasa, 24 Juli 2012

Tanggul Laut, Solusi Efektif untuk Teluk Jakarta


Sawarendro
Pengamat Masalah Banjir dan Reklamasi

Pembangunan Tanggul Laut di Teluk Jakarta merupakan salah satu solusi efektif untuk mencegah ancaman penurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut, yang akan menjadi persoalan utama untuk wilayah Jakarta Utara di masa mendatang. Bukan hanya itu, pembangunan tanggul laut yang komprehensif juga dapat menjadi solusi bagi permasalahan lain di Jakarta, seperti transportasi, penyediaan air baku, menahan intrusi air laut, land development dan rekreasi serta pembangunan pelabuhan laut dalam.

Hingga kini, Jakarta masih berjuang mengatasi banjir yang sering datang kala musim penghujan tiba. Dan banjir yang terjadi di Jakarta, merupakan akumulasi dari berbagai penyebab, seperti urbanisasi, kondisi hidrogeologi, luas badan air yang minim, rendahnya daratan di ibu kota dan lain-lain. Belakangan ancaman terjadinya banjir lebih mengkhawatirkan, khususnya yang dipicu oleh semakin menurunnya permukaan tanah di Jakarta dan kecenderungan fenomena global yang menunjukkan bahwa permukaan air laut terus meningkat akibat terjadinya pemanasan global.

Kedua faktor ini, menyebabkan permukaan tanah di Jakarta relatif akan semakin rendah bila dibandingkan permukaan air laut. Akibatnya, ancaman banjir dan genangan akan semakin berat dirasakan di masa depan, terutama untuk wilayah Jakarta Utara. Limpasan air laut dan rob akan menjadi isu dominan di masa datang. Dan untuk mengantisipasinya, diperlukan langkah-langkah yang fundamental, konseptual dan visioner agar pengembangan Jakarta dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Karena itu pembangunan  Tanggul Laut adalah salah satu solusi yang sangat masuk akan untuk menghadapi ancaman tersebut. Sebab walau bagaimanapun, masuknya air laut ke daratan harus dihindari. Sebab jika kita tidak melakukan sesuatu maka bukan tidak mungkin, daratan tempat kita menetap dan beraktivitas ini menjadi lautan. Dan sebagian wilayah  Jakarta bisa tergenang air secara permanen.

Skenario  Pembangunan Tanggul Laut

Rencana tanggul diharapkan tidak menjadi tanggul yang kaku, namun tanggul yang memberikan nilai tambah terhadap kehidupan dan lingkungan. Misalnya ruang air yang berada didalam air bisa menjadi sumber air baku, menjadi sumber air yang bisa di masukkan kembali ke dalam tanah (Aquifer Storage Recovery), bisa menjadi tempat rekreasi, penahan intrusi dan erosi serta tanggul yang bisa berfungsi sebagai jalan penghubung Barat-Timur.

Sesuai Peraturan Presiden (Perpres) 54, Tahun 2008, tentang Tata Ruang Kawasan Jabodetabekpunjur,  maka  pembangunan tanggul laut sebagai bagian dari reklamasi dapat dilakukan sampai dengan kedalaman laut kurang dari delapan meter. Karenanya, dalam pelaksanaan reklamasi dan pengembangan tanggul, perlu diperhatikan beberapa aspek berikut, yaitu ada tiga aliran sungai yang mempunya debit air cukup besar, dan terdapat pelabuhan yang menjadi jalur keluar masuknya kapal laut.

Untuk tiga aliran sungai yang mempunyai debit air cukup besar, kita memiliki Cengkareng Drain, Banjir Kanal Barat (BKB) dan Banjir Kanal Timur (BKT). Menurut studi JICA 1997, Cengkareng Drain dan BKB memiliki debit lebih dari 500 m³/detik dan BKT memiliki debit 390 m³/detik untuk kala ulang rencana 100 tahun. Dan untuk pelabuhan, Jakarta punya Tanjung Priok dan Pelabuhan Sunda Kelapa yang menjadi tempat keluar masuknya transportasi kapal.
Tanggul merupakan benteng pertahanan dalam menahan air yang akan memasuki kawasan. Karena itu kekuatan benteng ini harus benar-benar diperhatikan. Kemungkinan air yang datang dari laut harus benar-benar mampu dikelola. Tanggul harus benar-benar kokoh dan tidak mudah mengalami perubahan bentuk.

Di negeri Belanda penggunaaan sistem tanggul ini telah berlangsung selama beberapa dekade. Di negeri itu, tingkat keamanan tanggul disesuaikan dengan kepadatan penduduk dan nilai aset yang hendak dilindungi. Untuk wilayah barat yang memiliki kepadatan penduduk dan nilai aset ekonomi lebih tinggi misalnya, maka tingkat keamanan tanggul lautnya dilakukan dengan mengacu pada kriteria kala ulang gelombang 1 per 10.000 tahun. Sedangkan di wilayah timur, yang lahannya lebih banyak digunakan untuk kebutuhan pertanian, maka dipersyaratkan tingkat keamanan yang lebih rendah, dengan kala ulang sampai 1 per 1250 tahun.

Tingkat keamanan tanggul ini berhubungan dengan tingkat risiko atau konsekuensi yang muncul. Misalnya jika terjadi keruntuhan atau ketidak berfungsian struktur yang ada.

Dengan memperhatikan penurunan muka tanah dan kenaikan muka laut, maka pembangunan tanggul laut di Teluk Jakarta dapat dijalankan dalam tiga scenario, yaitu skenario Onland (pada eksisting garis pantai), skenario Offshore (dengan jalur sungai utama tetap terbuka), dan sekenario Offshore (dengan menutup jalur sungai utama).

Karena masing masing skenario memiliki keunggulan dan keterbatasan. Maka semua bergantung pada waktu, perkembangan ekonomi dan kecenderungan landsubsidence. Skenario satu memiliki kekuatan, bisa segera dilakukan dan melekat pada program yang ada sekarang. Skenario dua menyesuaikan dengan perkembangan pembangunan di kawasan Pantura, dan skenario tiga menyediakan tingkat fleksibilitas yang lebih tinggi jika landsubsidence masih berlangsung dan memberikan kemungkinan penataan yang lebih. ***

Senin, 02 Juli 2012

Euforia Demokrasi Jakarta





Tinggal hitungan hari....seluruh warga Jakarta, khususnya yang telah memiliki hak pilih akan melaksankan pesta demokrasi untuk memilih secara langsung Gubernur dan Wakil Gubernur yang bakal mimpin Jakarta ke depan....

11 Juli  mendatang boleh jadi merupakan hari yang sangat menentukan bagi kita (warga Jakarta). Di hari ini lah, akal sehat, rasio, logika, emosi bahkan sikap acuh tak acuh kita bakal dipertaruhkan. Apakah nanatinya, akal sehat kita, rasio, logika, emosi atau sikap acuh tak acuh yang akan menjadi pertimbangan dalam memilih pemimpin Jakarta ke depan.

Dan yang pasti harus diingat..kita harus memilih pemimpin yang benar-benar mampu membawa perubahan bagi kota Jakarta maupun bagi jutaan warga yang tinggal dan menggantungkan hidup di Ibu Kota negara ini. Bukan hanya pemimpin yang hanya bisa memberikan janji-janji manis, uang ratusan ribu untuk tiap warga ataupun mampu sekedar bingkisan sembako dan lainnya di saat kampanye. Tapi tak mampu berbuat apa-apa saat berkuasa--apalagi hanya memanfaatkan jabatannya demi memperkaya diri dan kelompoknya.

Jadi....marilah kita memilih pemimpin Jakarta dengan hati, bukan dengan emosi--apalagi hanya didasarkan pertimbangan karena telah menerima uang ratusan ribu rupiah atau bingkisan sembako dari salah satu pasangan calon.

Selamat berdemokrasi warga Jakarta...Semoga pemimpin yang kita pilih adalah orang yang bukan hanya mampu menampung aspirasi dan keluhan-keluhan kita. Tapi pemimpin yang benar-benar mampu membawa perubahan buat Jakarta dan masyarakatnya yang selama ini dihantui oleh kesemerawutan lalulintas (alias macet), banjir, sampah dan berbagai persoalan lain yang masing menggelayuti kota yang kini berusia 385 tahun ini. ***SALAM