Senin, 28 Januari 2013

Tingkatkan Kualitas Biji Kakao


Melalui Gerakan Nasional Fermentasi
 
Upaya penyediaan bahan baku kakao untuk industri dalam negeri, melalui Gerakan Nasional (Gernas) Kakao, mestinya juga diikuti dengan gerakan yang mewajibkan para petani kakao nasional untuk melakukan fermentasi atas produksi biji kakaonya. 

Sebab, walaupun produksi biji kakao para petani meningkat, jika kualitasnya rendah maka tetap tidak memberikan nilai tambah yang lebih baik bagi mereka. Tentu berbeda jika biji kakao yang mereka hasil telah melalui proses fermentasi. Pendapatan yang diperoleh oleh para petani tentu akan jauh lebih besar lagi.

Piter Jasman
Ini karena selisih harga biji kakao hasil fermentasi jauh lebih tinggi, dibandingkan dengan harga biji kakao nonfermentasi. Jika rata-rata harga biji kakao nonfermentasi hanya sekitar Rp 17.000 per kilogram, tapi harga biji kakao hasil fermentasi bisa mencapai sekitar Rp 22.000 per kilogram. 

Keharusan melaksanakan fermentasi terhadap biji coklat hasil produksi petani tersebut pun diamini oleh Piter Jasman. Sebagai Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesisa (AIKI) dan Komisaris Utama PT Bumitangerang Mesindotama atau BT Cocoa, dirinya tentu sangat berharap kualitas biji kakao nasional sesuai dengan yang diharapkan oleh kalangan industri. Yaitu biji kakao yang telah melalui proses fermentasi, dengan aroma yang kuat.

Sebab, selain dapat memberikan nilai tambah bagi para petani, ketersedian biji kakao hasil fermentasi di dalam negeri, juga akan mengurangi ketergantungan industri pengolahan biji kakao dari produk impor, seperti yang selama ini terjadi. 

Dimana untuk menghasilkan produk olehan yang baik, selain membeli biji kakao dari dalam negeri, kalangan industri pengolahan juga masih harus mengimpor biji kakao dari negara lain. Agar produk olahan biji kakao yang dihasilkan bisa sesuai dengan standar yang diinginkan oleh kalangan industri makanan, khususnya cokelat.

Seperti yang dilakukan oleh BT Cocoa sendiri. Menurut Piter, untuk menghasilkan produk olahan yang sesuai standar pembeli, pihaknya harus mengimpor sekitar 10% bahan baku biji kakao hasil fermentasi dari Pantai Gading. Biji kakao impor tersebut selanjutnya dicampur dan diolah bersama-sama dengan biji kakao produksi petani dalam negeri.

“Tapi saya yakin, kalau di dalam negeri tersedia biji kakao yang telah melalui proses fermentasi, maka industri tidak perlu repot-repot impor,” ucap Piter saat bincang-bincang dengan HORTUS Archipelago, usai peresmian kantor Forum Pengembangan Perkebunan Strategis Berkelanjutan (FP2SB) di Jakarta, belum lama ini.

Dengan pertimbangan itu, menurut dia, rasanya akan lebih efektif jika Gernas Kakao yang dijalankan oleh pemerintah cq Kementerian Pertanian (Kementan) juga dibarengi dengan keharusan bagi para petani kakao untuk melakukan fermentasi terhadap produk biji kakao yang dihasilkannya.

Fasilitasi Pendanaan Awal 

Namun Piter pun mengakui, untuk melaksanakan proses fermentasi ini para petani harus mengeluarkan dana lagi. Karena mereka harus menyediakan tempat dan membangun fasilitas fermentasi tersebut. Tapi semestinya, hal itu tidak menjadi masalah jika pemerintah bersedia memberikan bantuan pendanaan awal, baik berupa subsidi ataupun pinjaman lunak kepada para petani.

Proses Fermentasi Secara Sederhana (ist)
Namun demikian, agar program tersebut lebih efektif, bantuan pendanaan tersebut harus diberikan kepada koperasi-koperasi petani kakao, yang dibentuk langsung oleh pemerintah, melaui pemerintah daerah dan dinas pertanian. Dengan demikian, koperasi-koperasi itulah yang menampung biji kakao para petani, untuk selanjutnya melakukan proses fermentasi.

Koperasi-koperasi inilah yang selanjutnya menjual biji kakao hasil fermentasi itu kepada industri. Tapi koperasi juga hasur membagi secara adil margin yang diperoleh dari hasil penjualan tersebut kepada para petani yang menjadi anggotanya.

“Pola seperti ini, sebenarnya sudah kami terapkan kepada petani kakao yang menjadi binaan BT Cocoa di Bali. Dimana kami membentuk beberapa koperasi, yang di Bali dikenal sebagai Subak untuk menampung biji kakao produksi petani untuk selanjutnya difermentasi. Sehingga saat ini, biji kakao yang dihasilkan telah memiliki cita rasa sendiri, yang khas dari Bali dan harga jualnya juga tinggi,” urai Piter. 

Pola peningkatan kualitas dan mutu biji kakao melalui fermentasi ini, pun tengah dilakukan oleh para petani kakao di Provinsi Lampung. Salah satu kelompok petani kakao yang sudah melakukan pengolahan sistem fermentasi biji kakao, adalah Kelompok Tani Asli Makmur I di Desa Pakuonaji, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur.

Di sini, koperasi membeli bahan baku biji kakao dari para petani yang menjadi anggotanya dengan harga Rp 6.000 per kilogram, dalam kondisi buah yang sudah matang. 

Prose fermentasi yang dilakukan pun relatif sederhana, yaitu biji kakao dikeluarkan dan dimasukan dalam kotak kayu berkapasitas 7 kwintal dan ditutup dengan karung selama tiga hari. Selama proses fermentasi itu, biji kakao tersebut dibolak-balik. Kemudian dipindahkan ke kotak lainnya, dan dibiarkan selama tiga hari lagi. 

Proses Pengeringan Setelah Difermentasi
Selanjutnya, pada hari ketujuh, biji-biji kakao tersebut diangkat dan dikeringkan di lantai jemur atau tikar plastik hingga kadar airnya hanya tersisa sekitar 13%.

Kemudian, biji kakao hasil fermentasi tersebut dijual kepada perusahaan, yang memang sudah bermitra dengan kelompok, yakni PT Mutiara Prima yang merupakan pemasok biji kakao untuk pabrik cokelat Delfi di Bandung.

Biji kakau hasil permentasi tersebut dijual dengan harga sekitar Rp 22 ribu per kilogram. Tau lebih mahal Rp 5.000 per kilogram dari biji kakao nonfermentasi yang hanya dibeli dengan harga Rp 17.000 per kilogram.

Menurut Piter Jasman, memang akan lebih baik jika keharusan bagi para petani untuk melakukan fermentasi terhadap produksi biji kakaonya tersebut dilakukan per daerah, tidak serentak secara nasional. Program pertama bisa dilaksanakan di daerah-daerah yang menjadi sentra-sentra tanaman kakao, seperti Sulawesi, Sumetera dan lainnya.

Selain meringankan dalam hal bantuan pembiayaan, pola tersebut juga akan menggerakan para petani kakao di daerah lain untuk mencontoh keberhasilan yang telah dilaksanakan oleh rekan mereka di daerah lainnya. ***

Jumat, 25 Januari 2013

Benih Kakao


Mengenal Lebih Jauh Klon Kakao SE

Klon Somatic Embryogenesis (SE), kini namanya begitu populer di kalangan pelaku perekbunan dan petani kakao nasional. Terlebih sejak pemerintah cq Kementerian Pertanian (Kementan) menggulirkan Gerakan Peningkatana Produksi dan Mutu Kakao Nasional atau Gernas Kakao pada tahun 2009 silam.

Walau banyak juga pihak yang meragukan keandalan produktivitas dari klon ini. Tapi sejak gerakan nasional yang meliputi peremajaan tanaman kakao yang rusak, rehabilitasi tanaman yang kurang baik, dan intensifikasi tanaman kakao yang kurang produktif ini, klon kakao unggul “ciptaan” Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) Jember, Jawa Timur ini, telah menjadi satu-satunya bibit kakao yang paling direkomendasikan.

Sebab, selain diklaim mampu menghasilkan buah kakao yang lebih banyak dari klon lainnya, bibit kakao SE juga diyakini “kebal” terhadap hama atau penyakit utama pohon kakao, yaitu
Vascular Streak Dieback (VSD), Penggerek Buah Kakao (PBK), dan busuk buah (Phytophthora Palmivora) yang selama ini telah menjangkit dan merusak sebagian besar tanaman kakao di Indonesia.

Klon SE yang kini banyak dikembangkan di perkebunan kakao nasional, sebenarnya hasil riset yang dilaksanakan oleh Puslit Koka Jember sejak pertengahan tahun 2008. Klon SE merupakan proses dimana sel somatik yang ditumbuhkan dalam kondisi terkontrol berkembang menjadi sel embriogenetik. Setelah melewati serangkaian perubahan morfologi dan biokimia, sel ini selanjutnya berkembang dan menyebabkan pembentukan embrio somatik

Pembenihan Klon Kakao SE
Berbeda dengan embrio zigotik (hasil persilangan tanaman), perkembangan embrio somatik sangat mudah diamati, kondisi kultur sangat terkontrol dan embrionya dapat diperoleh dalam jumlah besar. Dengan demikian, SE akan memainkan peranan penting pada perbanyakan klonal kakao, karena secara genetik bersifat klonal dan secara morfologi bersifat normal. 

Di belahan dunia lain, teknik ini sebenarnya bukan barang baru. Karena telah lebih dulu dikembangkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Nestle (Nestle K&D Centre) Tours, Perancis. Lembaga itu mengembangkan teknik kultur in vitro kakao melalui SE dengan menggunakan media padat. 

Begitu juga dengan Equador, yang telah mengembangkan teknik tersebut dalam skala besar dan menguji secara langsung klon kakao SE di lapangan.

Ini lah yang kemudian dikembangkan di Puslit Koka Jember, setelah antara tahun 2006 – 2007 mendapatkan kesemopatan ditransfer teknologi dari negara itu, melalui pelatihan dan program pendampingan dalam proses produksi bibit. 

Tanaman kakao asal perbanyakan SE dicirikan dengan terbentuknya akar tunggang, adanya struktur jorket, dan sifat-sifat genetiknya sama dengan induk sumber eksplan (homogen). Untuk itu bahan tanam yang diperbanyak dengan teknik SE sangat menentukan sifat-sifat dari hasil perbanyakannya. Sifat-sifat unggul dari induk tanaman akan diturunkan sama persis kepada hasil perbanyakannya.

Dengan pertimbangan tersebut, maka program perbanyakan dengan teknik SE yang dilakukan oleh Puslit Koka Jember adalah menggunakan klon-klon kakao unggul, yang juga merupakan hasil pengembangan lembaga ini, seperti ICCRI 03, ICCRI 04, Sca 6, Sul 1, dan Sul 2.

Cepat Berbuah

Tapi yang namanya penemuan baru, rasanya belum ‘afdol’ jika dilakukan pembuktian atau pengujian di lapangan. Berdasarkan pengujian lapangan yang dilakukan Puslit Koka Jember, ditemukan bahwa klon kakao dengan teknik SE dapat tumbuh dan berbuah normal, seperti tanaman kakao hasil perbanyakan menggunakan teknik lainnya.

Kakao dari klon SE yang mulai berbuah
Tapi dibandingkan klon-klon lainnya, seperti perbanyakan tanaman asal benih, okulasi orthotrop, okulasi plagiotrop, ataupun setek, klon SE memiliki sejumlah keunggulan. Selain tajuk yang sempurna lengkap dengan jorquette, memiliki sistem perakaran tunggang, pertumbuhan seragam dan bersifat vigor serta relatif tahan kekeringan, klon SE juga mampu memproduksi buah lebih cepat 4 bulan dari bibit lain. Dan yang paling penting, produksi buahnya juga sangat tinggi.

Panen pertama pada klon SE ini sudah dapat dilakukan saat tanaman berumur 3 tahun setelah tanam), dengan produksi kakao hampir mencapai 500 kg per hektar per tahun. Atau lebih tinggi 500%, jika dibandingkan dengan produksi tanaman asal benih.

Produksi buah kakao asal SE juga dipastikan terus meningkat, seiring dengan bertambahnya umur tanaman. Bahkan, produksinya diklaim dapat mencapai 1.137 kg per hektar per tahun, ketika tanaman kakao telah berumur 4 tahun setelah tanam.

Selanjutnya saat tanaman ber umur 5 tahun, produksi buahnya akan meningkat lagi menjadi 1.680 kg per hektar per tahun. Diperkirakan potensi produksi tanaman kakao dari klon SE ini bisa mencapai di atas 2 ton per hektar per tahun.

Setelah menlalui proses pengujian lapangan, dengan hasil yang sangat menggembirakan. Maka sejak itulah klon SE ini mulai diproduksi secara massal oleh Puslit Koka Jember, dengan memproduksi plantlet (tanaman kecil) pasca aklimatisasi atau yang sudah mampu sudah beradaptasi dengan lingkungan luar, untuk selanjutnya disalurkan kepada para penangkar bibit.***