Kamis, 22 November 2012

'Melongok' Cara PTPN VI Mengintegrasikan Kebun Sawit dan Ternak Sapi



Peternakan Sapi PTPN VI melalui program Integrasi Sawit Sapi
MENGINTEGRASIKAN peternakan sapi dalam areal kebun sawit, mungkin semua perusahaan perkebunan kelapa sawit bisa melakukannya. Tapi mengoptimalkan pemanfaatan integrasi tersebut, belum tentu semua bisa melakukannya. 

Apalagi sampai menciptakan formulasi pakan sapi yang mampu menekan biaya hingga 70% dan menghasilkan pupuk organik dari kotoran sapi kualitas tinggi, tentu lebih sulit lagi.

Adalah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VI (Persero) Jambi, yang berhasil mengoptimalkan pengintergrasian peternakan sapi dalam kebun kelapa sawitnya. Melalui program yang diberinama Integrasi Sapi Sawit (ISS) ini, BUMN Perkebunan ini bukan hanya berhasil melakukan penggemukan dan pembiakan sapi-sapinya –dengan formula pakan yang diciptakan sendiri, tapi juga berhasil mengoptimalkan pemanfaatan kotoran sapi menjadi pupuk organik bernilai tinggi yang sangat baik untuk pohon kelapa sawit.

“Ini yang kami sebut menciptakan ekosistem. Karena sumber pakan sapi diambil dari pohon sawit, dan selanjutnya kotoran sapi yang telah terbentuk menjadi kompos secara alami, dikembalikan lagi sebagai pupuk tanaman sawit,” urai Iskandar Sulaiman, Dirut PTPN VI saat ditemui HORTUS Archipelago di kantornya, di Jambi.

Dengan demikian, program peternakan sapi di tengah areal perkebunan kelapa sawit ini benar-benar bisa dimanfaatkan secara optimal oleh perseroan. Karena di satu sisi, kebutuhan pakan sapi dapat dipenuhi dengan sumber-sumber yang diambil dari sawit, sementara di sisi lain, kebutuhan tanaman sawit akan pupuk juga dapat dipenuhi dari air seni dan kotoran sapi yang telah direkayasa secara organik.

Program integrasi sawit sapi yang dilaksanakan oleh PTPN VI, bisa dibilang tergolong baru. Karena programnya sendiri baru dicetuskan saat Menteri BUMN Dahlan Iskan menghadiri peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2012 pada awal Februari lalu di Jambi. Gagasannya, karena dia prihatin dengan kondisi Indonesia yang sangat tergantung dengan daging sapi impor, khususnya dari Australia.

Menteri BUMN Dahlan Iskan saat meninjau sapi-sapi PTPN V
Karenanya, untuk mengurangi ketergantungan impor dan mencapai swasembada daging pada tahun 2014, Dahlan mengusulkan agar dilaksanakan program integrasi peternakan sapi dan kebun kelapa sawit, oleh seluruh BUMN Perkebunan yang mengelola kebun kelapa sawit. Dan PTPN VI, yang mengelola areal perkebunan kelapa sawit dengan luas 23.625,51 hektar mendapat tugas untuk mengelola 10.000 ekor sapi di dalam area perkebunannya. Penugasan itu tertuang dalam Surat Meneg BUMN No.S.240/MBU/2012 tertanggal 9 Mei 2012.

Mendapat “tugas negara” seperti ini, menurut Iskandar Sulaiman, bukanlah perkara yang mudah. Apalagi, sebagai BUMN Perkebunan, manajemen PTPN VI tentu saja tidak mempunyai pengalaman dalam urusan mengurus sapi. Karenanya, untuk membantu kelancaran program ISS ini, pihaknya pun mendatang ahli-ahli peternakan dari instansi lain. 

Untuk urusan penggemukan dan pakan misalnya, didatangkan ahli peternakan dari Dinas Peternakan, pakar petenakan dari Universitas Jambi (Unja), dan Loka Penelitian Sapi Potong (Lolitsapi) Grati. Sementara untuk urusan pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi, bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan.

Dan hasilnya, setelah sekitar 9 bulan pelaksanaan program ISS tersebut, bukan hanya dihasilkan formulasi pakan sapi yang mampu memangkas biaya pakan hingga mencapai 70%, tapi juga pupuk organik dari kotoran sapi yang memiliki nilai jual tinggi.

“Ini tentu suatu terobosan yang sangat menggembirakan. Karena formulasi pakan yang kami hasilkan, mampu meningkatkan penggemukan sapi hingga mencapai 1 kg per hari. Di samping itu, juga menghasilkan pupuk organik yang punya nilai jual tinggi dan sangat baik untuk diaplikasikan di tanaman sawit,” papar Iskandar.

Sistem Kandang Koloni
Saat pertama kali memulai program ISS ini, PTPN VI membeli sebanyak 50 ekor indukan dari ras sapi Bali. Tapi sampai saat ini, setidaknya sudah ada 2.000 ekor dari jenis sapi Bali dan Peranakan Ongole (PO) yang dipelihara oleh perusahaan. Bahkan hingga akhir tahun 2012, ditargetkan sedikitnya ada 3.000 ekor sapi yang dikelola di lokasi ini.

30 ekor sapi ditempatkan dalam satu kandang secara koloni 
 Memanfaatkan bangunan bekas pabrik pengolahan karet (CRF) dengan luas sekitar 9,2 hektar di Desa Sebo, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi (sekitar 60 km dari kota Jambi), sapi-sapi tersebut dipelihara secara intensif dengan sistem kandang koloni. Dimana tiap kandang, berukuran 90 m2 ditempatkan 30 ekor sapi, dengan perhitungan 3 m2 untuk tiap 1 ekor sapi. Sehingga walapun tidak digembalakan, sapi-sapi tersebut dapat bergerak bebas.

Dan untuk urusan pakan, menurut dia, pada umumnya sama seperti yang diaplikasikan oleh peternakan sapi lain yang terintegrasi dengan kebun sawit. Antara lain, pelepah sawit dan bungkil inti sawit. Untuk pelepah sawit, diambil dari kebun unit Batang Hari yang jaraknya hanya sekitar 3 km dari lokasi kandang.
Pelepah dan bungkil inti sawit tersebut, selanjutnya dicampur dengan bahan-bahan lain, seperti onggok sisa penggilingan tapioka, dedak hasil penggilingan padi, tetes tebu (molases) dan garam. 

“Tapi selain bahan-bahan pakan itu, kami juga menggunakan campuran lain sebagai sumber nutrisinya. Dan bahan tambahan ini yang belum tentu orang lain tahu,” tambah Irvan S.T, Kapala Urusan Perencanaan dan Analisa Proyek PTPN VI, tanpa bersedia menyebutkan apa sumber nutrisi tambahan tersebut.

Pakan untuk sapi yang dirancang sendiri oleh Tim Ahli
Dia hanya mengakui, untuk pakan sapi ini, setidaknya telah dihasilkan 4 formulasi yang berbeda. Dimana pada formulasi terakhir (keempat), ditargetkan mampu meningkatkan bobot per ekor sapi hingga mencapai 1 kg per hari. “Formulasi ini memang masih dalam tahap penelitian oleh tim kami. Tapi sambil berjalan, formula ini juga sudah mulai diberikan pada sapi-sapi kami,” tambah pria yang setia mendampingi HORTUS selama berkunjung ke areal peternakan.

Menurut dia, pada formulasi sebelumnya atau yang ketiga, telah terbukti mampu menghasilkan pertumbuhan bobot sapi hingga mencapai 0,8 kg per hari.

Formulasi Pakan
No
Bahan Pakan
Komposisi
(%)
Komposisi Ideal
(%)
1
Cacahan Pelepah Sawit
60
Dalam tahap
pengujian
2
Bungkil Inti Sawit
25
3
Onggok/Ampas Bihun
8
4
Dedak Padi
5
5
Molases
1
6
Garam
1
Sumber: ISS PTPN IV

Memanfaatkan Sabut Kelapa Sawit
Untuk menghasilkan pupuk organik dari kotoran sapi yang bernilai jual tinggi dan bermanfaat untuk tanaman sawit, pun PTPN VI punya trik sendiri. Yaitu dengan memanfaatkan sabut atau fiber kelapa sawit sisa proses pemerasan minyak sawit.

Sabut-sabut kelapa sawit tersebut ditempatkan di lantai kandang, sehingga dengan sendirinya akan bercampur dengan kotoran dan air seni sapi. Selanjutnta proses pembuatan kompos secara alami itu di dibiarkan selama 3 bulan. Setelah itu, barulah kotoran dibersihkan dan langsung bisa digunakan sebagai pupuk untuk pohon induk sawit.

Iskandar menuturkan, filosofi pembuatan pupuk organik secara alami itu didasarkan pertimbangan dan pengalaman kandang-kandang sapi masyarakat. Dimana kotoran sapi, air seni dan rumput sisa-sisa pakanya bercampur secara alami dalam kandang.

“Karena pertimbangan itulah, makanya kami tidak membersihkan kandang selama 3 bulan, sehingga terjadi percampuran kompos secara alami. Dan ternyata, selain menghasilkan pukuk organik yang bagus, sistem ini juga sangat efisien dalam pemakaian tenaga kerja. Karena cukup dengan satu orang pekerja, dapat mengurus dan mengawasi antara 100 hingga 150 ekor sapi,” papar Iskandar.

Pemanfaatan fiber kelapa sawit ini, selain mampu menghasilkan pupuk organik yang sangat berkualitas, ternyata juga membuat kondisi kandang termenjadi tidak berbau, layaknya kandang-kandang sapi sejenis. Bahkan bisa dibilang, lalat pun tidak banyak berada di areal kandang.

Penempatan sabut kelapa sawit sebagai dasar lantai kandang 
Untuk ini, pihak pengelola yang dikomandani oleh Musahar sebagai Manager, mendesain beberapa bagian atap kandang dengan menggunakan fiberglass, sehingga sinar matahari bisa langsung masuk ke dalam kandang. Selain itu, sekeliling kandang juga dibiarkan terbuka, sehingga menghasilkan sirkulasi udara yang baik. Penggunaan atap fiberglass dan sistem kandang terbuka ini membuat lantai kandang—yang menjadi tempat proses alami pupuk organik, tetap kering.

Namun demikian, untuk mengawasi kesehatan sapi-sapi tersebut, PTPN VI juga menepatkan 2 orang tenaga kesehatan (dokter hewan), yang merupakan petugas kesehatan hewan dari Dinas Peternakan Muaro Jambi dan staf perusahaan sendiri.

Bahkan di lokasi ini juga terdapat “klinik” sapi, yang memang dikhususkan menjadi tempat rehabilitasi bagi sapi-sapi yang mengalami gangguan kesehatan. “Kalau ada sapi yang kurang sehat atau mengalami kecelakaan karena berkelahi, maka kami rehabilitasi ditempat itu sehingga tidak mengganggu sapi-sapi lain,” tutur Musahar.

Sapi-sapi h hasil program penggemukan melalui program ISS yang dilakukan oleh PTPN VI ini, pemasarannya pun ternyata tidak sulit. Karena pada Idul Adha yang baru lalu, perseroan berhasil menjual sebanyak 200 ekor  kepada masyarakat. Bahkan ada pedagang dari Batam yang memborong sebanyak 50 ekor untuk dibawa dan dipasarkan di wilayah itu.

Karenanya, menurut Iskandar, dalam memasarkan sapi-sapi hasil penggemukan di ISS ini, selain untuk kebutuhan di wilayah Jambi sendiri, pihaknya juga berencana memasarkannya ke wilayah Riau Kepulauan  khususnya  Batam.***

Jumat, 16 November 2012

Sawit Lestari

Mengintegrasikan Kebun Sawit 
dan Peternakan Sapi

HAMPARAN perkebunan kelapa sawit nan luas, sejatinya sangat potensial untuk disinergikan dengan usaha atau bisnis lain. Mulai dari wisata agro, wisata berburu hingga wisata pendidikan. Bahkan, areal perkebunan sawit juga sangat potensial jika diintegrasikan dengan peternakan sapi. Limbah sawit, seperti solid, pelepah dan bungkilnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan sapi, dan sebaliknya kotoran sapi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk pohon kelapa sawit.

Adalah PT Citra Borneo Indah (CBI) Grup, perusahaan perkebunan kelapa sawit yang telah secara serius mengembangkan bisnis peternakan dan pembiakan sapi atau breending di tengah perkebunan kelapa sawitnya.

Sapi yang dilepasliarkan
di areal kebun sawit
Melalui anak usahanya, yaitu PT Sulung Ranch, CBI secara khusus mengelola bisnis peternakan sapi di kebun sawitnya di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (Kalteng). Dari 90.094 hektar areal perkebunan kelapa sawit yang dimikiki CBI di wilayah itu, 30 hektar dikhususkan untuk pembangunan peternakan sapi, yang disebut dengan istilah Siska atau Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit.

Bahkan bisnis peternakan sapi di tengah kebun sawit yang dikelola Sulung Ranch ini tergolong serius. Sebab selain mengelola sendiri peternakan sapinya, perusahaan ini juga menjalin kerjasama dengan berbagai mitra bisnis. Bahkan 2 perusahaan sapi asal negeri Kanguru, Australia, yaitu Wellard dan Austrex  juga telah menyatakan minatnya untuk bekerjasama dengan perusahaan ini.

Pada tahap awal, total sapi yang dipelihara di peternakan ini mencapai sekitar 600 ekor. Tapi dalam 5 tahun ke depan, Sulung Ranch menargetkan bisa memiliki sapi dalam jumlah ribuan ekor.


“Sapi-sapi ini dipelihara dan dikembangbiakkan oleh tenaga-tenaga ahli peternakan yang sengaja saya datangkan dari luar Kalimantan. Bahkan untuk menjaga kesehatannya, kami  juga mendatangkan seorang dokter hewan yang tugasnya khusus mengontrol pertumbuhan sapi-sapi itu,” Abdul Rasyid, “si empunya”  CBI Grup yang merupakan anggota MPR RI dari Utusan Daerah pada priode 1992-1997, dalam sebuah kesempatan.

Berguru ke Australia

Sebagai pengusaha perkebunan kelapa sawit yang asli putra daerah, Abdul Rasyid memang sangat serius dalam mengembangkan peternakan sapi di areal perkebunan sawit. Ini menurutnya,  didorong keinginan untuk membantu mengurangi ketergantungan terhadap daging-daging sapi impor.


Seorang pekerja tengah memberi
makan sapi di kebun 
Bahkan, saking seriusnya, Rasyid pun tak segan-segan memboyong anak buahnya untuk melakukan studi banding ke peternakan sapi di Australia. Di negeri Kanguru itu, mereka belajar bagaimana cara mengembangbiakan sapi, sehingga dapat menghasilkan kualitas sapi standar impor. Tak sekedar studi banding, Rasyid pun memboyong bibit-bibit sapi unggul dari Australia.

“Kami mengambil sapi hamil dari Australia, sehingga membeli satu ekor maka bisa mendapatkan 3 ekor atau istilahnya buy one get three”, terang Rasyid. Selanjutnya, sapi-sapi asal Australia itu dikawinkan dengan sapi pejantan dari Bali, sehingga menghasilkan produk campuran.

“Ke depan kami menargetkan dapat meningkatkan jumlah sapi hingga 1.200 ekor. Tapi juga tidak tertutup kemungkinan untuk terus berkembang ke angka yang lebih besar,” tambah Rasyid.

Kurang Diminati Investor

Dari kajian yang dilakukan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah sebagiamanperti ditulis oleh Bambang Ngaji Utomo dan Ermin Widjaja menyebutkan, kegiatan pembibitan sapi potong nampaknya memang kurang diminati oleh para investor.

Hal ini disebabkan, peternakan sapi m dierupakan salah satu bisnis yang padat modal. Sebab pada umumnya, usaha peternakan sapi bersifat pembiakan untuk menghasilkan anak sapi (pedet), yang biaya untuk pakannya sendiri bisa jauh lebih mahal dari harga pedet itu sendiri.

Sapi-sapi tengah istirahat
usai mencari makan

Dengan biaya pakan mencapai Rp. 4000/hari/ekor dan rata-rata jarak beranak sekitar 600 hari, maka untuk menghasilkan 1 ekor pedet dibutuhkan biaya pakan sebesar Rp2.400.000. Sementara harga pedet per ekor hanya sekitar Rp1.500.000. Dengan demikian biaya pakan untuk menghasilkan 1 ekor pedet lebih mahal daripada harga pedet itu sendiri.

Oleh karena itu, agar usaha pembibitan sapi potong tersebut memberikan keuntungan, maka harus dilakukan melalui pendekatan secara terintegrasi. Sebab, hal ini berkaitan dengan upaya menekan biaya pakan yang mencapai 60 hingga 70% dari total biaya produksi. Yaitu melalui pemanfaatan secara optimal sumberdaya lokal berupa vegetasi atau limbah pertanian sebagai sumber pakan.

Dan ini telah dibuktikan di peternakan Sulung Ranch, yaitu dengan pendekatan secara terintegrasi sehingga biaya pakan bisa ditekan hingga 54,36%. Karena pakan selain berasal dari rumput, yang dikembangkan dengan pola gembala (grazing), juga berasal dari hijauan makanan ternak yang ada diantara tanaman kelapa sawit. Sedangkan sebagai pakan tambahan (konsentrat), dapat diperolah dari solid sawit limbah PKS yang lokasinya tidak begitu jauh dari peternakan, yaitu sekitar 3 km.

Keuntungan lebih bisa ditingkatkan lagi manakala jarak beranak, sebagaimana yang dikerjakan di Sulung Ranch lebih pendek lagi, yaitu hanya 13 bulan (395 hari). Karena
untuk mendapatkan 1 ekor pedet, hanya dibutuhkan biaya Rp452.275.

Dalam kesimpulannya, Bambang dan Ermin menyebutkan, kunci keberhasilan pembibitan sapi potong yang dilakukan Sulung Ranch, adalah ketersediaan sumber pakan ternak yang berupa hijauan makanan ternak (HMT). Baik yang dibudidayakan, maupun yang diperoleh dari area kebun kelapa sawit, dan pakan tambahan dari limbah pabrik kelapa sawit, sangat mencukupi.

Selain itu, pembibitan sapi yang dipadukan dengan perkebunan kelapa sawit juga mampu mengurangi biaya pakan hingga hanya menjadi Rp1.145/ekor/hari, dan terjadi efisiensi harga rumput sebesar 54,4%, dengan efisiensi total biaya pakan yang dikeluarkan adalah 54,36%. Dengan demikian, pembibitan sapi potong yang dilakukan secara terintegrasi dengan kelapa sawit sangat menguntungkan, jika dilihat dari biaya pakan dan harga pedet.

Kondisi sapi yang gemuk karena cukup makanan
Karenanya, Bambang dan Ermin berpendapat, pola pembangunan peternakan yang dilakukan oleh CBI ini perlu ditiru oleh perusahaan swasta lainnya. Karena, selain menguntungkan, pola ini juga dapat menjadi contoh pelestarian plasma nutfah sapi Bali, dan sekaligus sebagai salah satu sumber penghasil daging sapi.

Dan yang juga menjadi pertimbangan penting, pengembangan peternakan sapi di dalam areal perkebunan kelapa sawit dapat mengurangi potensi konflik horizontal, antara pihak perusahaan dengan masyarakat di sekitarnya. Karena masyarakat ikut diberdayakan melalui usaha pemeliharaan sapi-sapi tersebut. ***

Minggu, 11 November 2012

Prof. Bungaran Saragih



Orangutan Telah Menjadi Simbol Nasional

Orangutan, Primata yang menjadi Ikon Nasional
Prof.Bungaran Saragih
ORANGUTAN, kian hari habitatnya makin terancam. Tak jarang pula ada orangutan yang mati dibunuh, karena dianggap sebagai hama pengganggu tanaman. Padahal Undang-undang No. 5/1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistem, dengan tegas melarang warga negara untuk membunuh orangutan. Tapi tetap saja, masih banyak primata yang merupakan salah satu ikon Indonesia ini yang menjadi korban pembunuhan.
 
Beruntung, kita punya Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). Dimana mantan Menteri Pertanian (Mentan) Profesor Bungaran Saragih, duduk sebagai Ketua Pembinanya. Keberadaan organisasi non pemerintah alias Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ini, sedikit banyak telah membawa perubahan pada nasib orangutan di Indonesia. Bahkan keberadaan yayasan ini juga telah mendorong dan memotivasi banyak pihak untuk lebih peduli terhadap nasib dan perlindungan orangutan.

Sayang, di tengah perjuangannya melindungi dan menyelamatkan orangutan hutan dari aksi pembunuhan dan perdagangan gelap, BOSF juga harus dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak mudah untuk mendapatkan lahan hutan yang dapat digunakan untuk konservasi primate itu.

Bahkan demi tersedianya lahan hutan yang sesuai, lembaga itu harus membayar izin penggunaannya sebesar 1,4 juta dolar AS, atas penggunaan lahan hutan seluas 86.450 hektar di Kalimantan Timur.  

"Ini ironis. Orangutan kan milik negara dan hutan juga milik negara, tapi kami harus membayar penggunaan lahan hutan untuk melestarikan orangutan. Padahal seharusnya negara yang menyediakan hutan untuk pelestarian orangutan ini,” tandas Guru Besar Universitas Pertanian  Bogor (IPB) ini dalam sebuah kesempatan.

Padahal, untuk biaya konservasi dan perawatan per oranguta saja, BOSF harus mengeluarkan dana mencapai 3.500 dolar AS per tahun. Artinya, semakin banyak orangutan yang dirawat oleh BOSF, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan.
Sahabat Orangutan, sebutan bagi para relawan dan pengasuh orangutan
“Dan ironisnya lagi, lembaga konservasi dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut) justru membawa orangutan-orangutan yang harus dirawat ke BOSF,” tambah dia. Selama ini, biaya-biaya tersebut ditutup dengan dana yang diberikan oleh beberapa donor asing.

Di luar itu, mantan Menteri Petanian (Mentan) era pemerintahan Presiden Abdurrahmad Wahid (Gus Dur) dan Presiden Megawati Soekarno Putri ini juga menilai, persoalan lain yang kerap menjadi persoalan dalam upaya pelestarian orangutan adalah sulitnya untuk kembali melepasliarkan primata tersebut.

Karena umumnya, orangutan yang telah lama tinggal di lingkungan rehabilitasi, akan sangat tergantung dengan manusia. Sehingga akan sangat sulit untuk beradaptasi kembali dengan lingkungan atau hutan yang memang menjadi habitat mereka. Padahal, lahan rehabilitasi juga memiliki daya tamping yang sangat terbatas.

Habitat orangutan sendiri saat ini diperkirakan hanya tinggal berada di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Diperkirakankan, jumlahnya orangutan yang tersisa di hutan Kalimantan hanya sekitar 54.500 ekor orangutan Kalimantan atau yang dikenal juga dengan nama Pongo pygmaeus.
 
Sementara di wilayah Sumatera, diperkirakan hanya tinggal tersisa sekitar 7.400 ekor orangutan Sumatera atau yang dikenal dengan nama Pongo abelli.

Sabtu, 03 November 2012

Wisata Agro


Bogor Plantations Edu Park
Wisata Sambil Belajar Berkebun

Wisata Edukasi Perkebunan Bogor atau Bogor Plantations Edu Park, menawarkan paket wisata agro yang berebada dari lokasi-lokasi wisata agro lain yang banyak tersebar di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya. Di lokasi ini, selain berwisata, pengunjung juga dapat belajar cara-cara berkebun dan budidaya tanaman kelapa sawit, kakau, karet, tebu  dan berbagai tanaman perkebunan lainnya.

Menjamurnya areal wisata perkebunan atau yang lazim disebut agro wisata, memaksa pengelola untuk berpikir kreatif demi menarik minat pengunjung. Dan itu yang mungkin terbersit di benak pengelola Bogor Plantations Edu Park. Sebuah kawasan wisata agro yang menawarkan berbagai pengetahuan mengenai perkebunan sawit, karet, kelapa, kopi, kakao, teh, kina dan tebu.

Di lokasi wisata ini, pengunjung akan mendapatkan pelajaran mulai dari proses pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman, panen, hingga ke proses pengolahannya.  Tapi walaupun nuansanya pendidikan, di lokasi ini pengelola mengemasnya dengan paket yang kreatif dan menghibur. Bahkan tersedia untuk segala umur dan tingkat pendidikan.  

Selain itu, pengunjung juga dapat mencoba dan menikmati produk perkebunan serta rekreasi di hamparan perkebunan, terutama kebun karet dan sawit, dengan panorama Gunung Salak yang indah dan asri.  
Lokasi wista Edukasi Perkebunan Bogor ini terletak di  tengah kota Bogor, yang jaraknya kurang lebih 2 km dari Kebun Raya Bogor, yaitu di Jalan Taman Kencana 1, Desa Babakan, Bogor Tengah, Bogor, Jawa Barat. Dan dari Jakarta, lokasi ini dapat ditempuh hanya dalam waktu 1 jam.
Dengan berbagai paket yang ditawarkan, tempat wisata edukasi perkebunan ini sangat cocok bagi keluarga. Khususnya yang ingin menikmati wisata perkebunan di tengah fanorama alam yang indah dan sejuknya udara penggunungan, sekaligus belajar berbagai hal mengenai perkebunan.


Afdeling Sawit
Di areal ini, pengunjung dapat mengenal dari dekat tanaman sawit, yang saat ini tengah menjadi primadona. Karena minyak sawit mentah (CPO) yang dihasilkan dari buahnya, tengah menjadi komoditas unggulan. Bahkan minyak sawit telah mengantarkan Indonesia sebagai penghasil dan pengekspor terbesar di dunia.

Dengan mengenal lebih jauh seluk-beluk mengenai kelapa sawit, diharapkan akan meningkatkan apresiasi kita pada tanaman ini sebagai penghasil minyak nabati yang paling efisien. Bukan hanya itu, minyak sawit juga diyakini akan menjadi sumber bahan bakar andalan di masa depan.

Di lokasi ini, selain akan diajarkan bagiaman membudidayakan tanaman sawit serta proses pembuatan minyaknya, pengunjung juga akan diperkenalkan pada bunga jantan dan bunga betina pada sawit yang unik. 

Bahkan pengunjung juga bisa mencoba sendiri ‘mengawinkan’ kedua bunga sawit tersebut, untuk mendapatkan jenis bibit sawit unggul.

Afdeling Karet
Tanaman karet dari berbagai umur tersedia untuk bahan pembelajaran dan rekreasi tersedia di lokasi ini. Pengunjung akan mendapatkan pengalaman yang mengesankan, khususnya dalam hal proses budidaya dan pengolahan tanaman yang menjadi bahan baku untuk ban kendaraan ini.

Di tempat ini, pengunjung dapat melakukan sendiri cara-cara menanam karet. Mulai dari biji, okulasi bibit untuk menghasilkan bahan tanaman klonal unggul, menyadap karet, dan mengumpulkan karet hasil sadapan yang sudah berbentuk lateks. 

Bahkan pengunjung juga akan mendapatkan pengalaman, bagaimana mengolah karet-karet mentah hasil sadapan tersebut menjadi barang jadi yang banyak ditemui sehari-hari, seperti balon atau pun karet gelang.


Kebun Koleksi Kakao
Di tempat wisata edukasi ini, pengunjung juga dapat belajar berbagai hal mengenai tanaman kakao atau cokelat. 

Sekedar menanam tanaman kakao baru yang tumbuh dari biji, atau pengunjung juga bisa ‘mengganti’ tanaman yang sudah tua dengan tanaman baru yang unggul, melalui teknologi sambung samping.

Di sini, pengunjung juga merasakan dan belajar sendiri cara-cara panen kakao. Bahkan mereka juga akan diajarkan cara-cara fermentasi kakao, untuk meningkatkan aroma. 

Bukan hanya itu,  mencicipi produk kakao (cokelat) juga menjadi kegiatan yang disajikan dalam wisata kakao di tempat ini, dengan kemasan yang mendidik dan menghibur.

Koleksi Tanaman Tebu

Untuk areal di tanaman tebu, selain dikenalkan berbagai jenis bibit tanaman penghasil gula tersebut, pengunjung juga dijelaskan mengenai proses-proses pembuatan gula pasir, yang merupakan konsumsi sehari-hari di rumah.

Disamping itu, sebagai tanaman yang bisa langsung dikonsumsi, di areal ini pengunjung juga akan merasakan dan menikmati langsung manisnya minuman sari tebu, dengan cara memeras sendiri batang tebu hasil panennya.

Kebun Koleksi Kopi

Sebagai areal wisata edukasi perkebunan, Bogor Plantation Edu Park juga menyediakan berbagai koleksi kopi yang menjadi pruduk andalan Indonesia, seperti Robusta dan Arabika.

Di tempat ini, banyak pelajaran yang bisa dipetik oleh pengunjung, mulai dari cara-cara  menanam kopi, panen dan memproses kopi untuk mendapatkan produk kopi yang berkualitas tinggi.
Selain itu, mereka juga dapat mencicipi langsung berbagai kopi “specialty” dari berbagai daerah produksi di Indonesia. 

Dan yang istimewa, pengunjung juga akan mendapatkan penjelasan atau pemaparan mengenai proses produksi kopi luwak, yang saat ini menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia.

Lab Kultur Jaringan

Semua komoditas perkebunan dapat diperbanyak dengan teknologi kultur jaringan, yaitu teknologi untuk menggandakan tanaman dari sel atau jaringan tanaman menjadi ribuan atau jutaan tanaman.
Dan pengujung dapat menggunakan sarana lab ini untuk belajar dasar-dasar teknik kultur jaringan. Khususnya teknik kultur jaringan untuk tanaman bunga, seperti anggrek dan Philodendron. Selain belajar sendiri, pengunjung juga dapat membawa pulang hasil prakteknya itu.

Plantation Walk dan Camping Ground

Sebagai areal wista keluarga, di tempat ini juga dilengkapi dengan fasilitas plantation walk atau arena jalan kaki, bagi yang ingin menikmati jalan santai di sepanjang areal perkebunan sambil menikmati segarnya kebun karet, sawit, kakao, kopi dan tebu.
Pengunjung dapat berolahraga di alam terbuka atau merayakan pesta dalam suasana pesta kebun, dengan nuansa alam yang romatis dan indah.


Dan untuk mereka yang gemar camping atau berkemah di alam terbuka, di tempat  ini pihak pengelola juga menyediakan areal caping ground, dengan hamparan rumput hijau dan asri. Pengunjung dapat mendirikan tenda-tenda di antara rimbunan pohon karet dan sawit, dengan pemandangan asri kebun dan latar belakang Gunung Salak.

Pengunjung dapat belajar dan berwisata tentang perkebunan pada siang hari dan berapi unggun pada malam hari, sehingga akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan untuk acara liburan keluarga atau outbond.  Area perkemahan  ini terjangkau sinyal telekomunikasi, serta dilengkapi fasilitas kamar mandi dan tempat cuci.